Jumat, 30 Desember 2011

Bagaimana Cara Mengajar Bahasa Indonesia di SD Sambil Bermain?

 Sebagai seorang guru, terkadang saya merasa bingung bagaimana cara mengajarkan suatu materi yang dapat menstimulus perasaan anak sehingga memberikan feedback positif. Sebagian dari kita mungkin mendapat hal serupa tatkala harus mengajarkan suatu materi yang terkesan menjemukan, kita mendapat respon apatis dari siswa bahkan terlihat antipati. 

Dalam beberapa pelajaran khususnya pelajaran outdoor atau pelajaran yang hubungannya dengan hobby yaitu : Pendidikan Jasmani, Seni Budaya dan Keterampilan, ICT dll. Mungkin perasaan itu tidaklah dominan. Tapi bagaimana dengan yang lainnya, apakah demikian? Jawabannya mungkin beragam. Tapi lebih tepatnya adalah “BISA”. Tergantung bagaimana cara kita menyampaikannya.

Frolebel (dalam Dadan Djuanda, 2006) seorang pendidik dari Jerman, ia percaya bahwa salah satu alat yang terbaik untuk mendidik anak-anak ialah melalui permainan. Menurut pendapatnya anak-anak lebih siap dan berpotensi untuk bermain daripada cara lain. John Locke seorang filusuf Inggris pada abad ke 17, ia meyakini bermain dapat membantu usaha mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan Rousseau dan Emile menekankan pentingnya bermain yang dapat bermanfaat dalam perkembangan anak. (Dadan Djuanda, 2006: 14) bahkan Conny R. Semiawan (1994:64) lebih menekankan lagi, menurutnya “Dunia  anak  adalah  dunia  gerak  dan bermain”.

 Dari beberapa pernyataan di atas kita tahu bahwa anak usia SD kurang menyukai kegiatan yang bersifat formal, tetapi mereka suka dengan kegiatan yang memungkinkan mereka dapat mengeksplorasi lingkungannya. Maka dari itu, pendidikan bagi anak usia SD harus lebih diarahkan pada kegiatan belajar sambil bermain.

Sekarang kita fokuskan pembahasan ini hanya pada pelajaran Bahasa Indonesia. Yaitu tentang “Bagaimana cara mengajar Bahasa Indonesia sambil bermain?” ada beberapa macam permainan yang dapat kita gunakan dalam mengajarkan Pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu :

1.      Bisik Berantai
Permainan ini mungkin sudah kita tahu, yaitu dengan memberikan perintah kepada siswa untuk berbanjar. Kemudian guru membisikan suatu kata (untuk siswa kelas rendah) atau kalimat (untuk siswa kelas tinggi) kepada salah satu siswa di barisan belakang. Kemudian siswa tersebut wajib menyampaikan pada siswa di depannya. Pemain terakhir harus mengatakan isi dari pesan tersebut, sambil guru memeriksa dimana letak kesalahan jika pesan tersebut salah. Permainan ini bisa juga dilombakan secara berkelompok. Permainan ini melatih keterampilan menyimak/mendengarkan.

2.      Kim Lihat
Siapkan benda-benda seperti sayuran, buah-buahan, alat tulis dan sebagainya dalam kotak tertutup dan disimpan di belakang. Siswa berkelompok. Salah satu anggota kelompok ke depan dan melihat gambar/benda nyata tanpa bisa dilihat anggota lainnya. Kemudian ia wajib menjelaskan sejelas-jelasnya tentang benda tersebut, baik kegunaannya, ciri-cirinya, rasa, warna atau apapun tentang benda itu tanpa mengatakan nama bendanya. Anggota kelompok lainnya dengan cepat mengambil benda tersebut. kelompok yang mengumpulkan dengan benar dan cepat adalah pemenangnya. Permainan ini melatih keterampilan berbicara dan menyimak.

3.      Aku Seorang Detektif
Permainan ini dilakukan berpasangan, seorang menjadi informan dan seorang lagi detektif. Informan bertugas mencari seorang anak di dalam kelas (bisa juga di sekolah) yang akan dijadikan target pencarian detektif. Setelah itu ia menuliskan ciri-ciri orang tersebut secara tertulis, kemudian catatan itu diberikan kepada detektif.  Tugas detektif adalah mencari orang yang dideskripsikan. Peran yang ada dilakukan bergantian. Permainan ini melatih keterampilan membaca dan menulis.

4.      Bertanya dan Menerka
Para siswa dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok penanya satunya menjadi kelompok penjawab. Kelompok penjawab harus menyembunyikan satu benda yang akan diterka oleh kelompok penanya tanpa memberitahukan sedikitpun petunjuk. Setiap anggota kelompok penanya diberi satu kali kesempatan untuk bertanya. Kelompok penjawab hanya boleh menjawab dengan kata ya atau tidak. Setelah seluruh anggota kelompok bertanya, maka kelompok harus berunding untuk menjawab benda apa yang disembunyikan tersebut. bila dapat diterka, maka kelompok penanya mendapatkan nilai. Permainan ini melatih keterampilan berbicara dan berfikir analisis.

5.      Baca Lakukan
Permainan ini sangat cocok diberikan di kelas rendah yang sudah bisa membaca. Dilakukan berpasangan, seorang anak membaca perintah tertulis yang diberikan oleh guru misalnya: saya memegang lutut, saya memegang kepala sambil menari dan sebagainya. Pasangannya melakukan perintah tersebut. Guru memperhatikan beberapa perintah yang dilaksanakan dengan benar dan apakah pembaca membaca perintah dengan benar. Permainan ini melatih keterampilan membaca dan menyimak.

6.      Bermain Telepon
Permainan ini untuk kelas rendah. Siswa secara berpasangan harus mempersiapkan alat untuk menelepon. Siswa harus menelepon temannya dan menanyakan kabar, pelajaran untuk besok, buku pelajaran yang harus dibawa dan sebagainya. Biarkan siswa mengembangkan percakapannya sendiri, kecuali kalau terhenti maka guru memberikan pancingan berupa pertanyaan kepada siswa. Guru memperhatikan cara mengungkapkan gagasan, kalau perlu cara pelafalan yang benar. Permainan ini melatih keterampilan berbicara.

7.      Meloncat Bulatan Kata
Permainan ini untuk kelas rendah dan dapat dilakukan secara berkelompok maupun mandiri. Guru mempersiapkan bulatan-bulatan dari kertas karton kira-kira sebesar piring yang sudah ditulisi kata-kata tertentu misalkan kakak, adik, ayah dan ibu, lalu disebar di atas lantai. Setiap anak harus meloncati bulatan kata itu sesuai perintah guru atau kelompok lain. Misalnya loncat ke kakak, loncat ke ibu, loncat ke ayah dan loncat ke adik. Dengan demikian setiap anak akan membaca bulatan untuk diinjak. Lebih meningkat lagi, bulatan kata dibentuk lebih sulit bahkan bisa berbentuk kalimat. Bulatan kata disebar sedemikian rupa dan memungkinkan dapat disusun menjadi kalimat. Misalnya : ayah pergi ke pasar, ibu memasak di dapur dan sebagainya sehingga setiap anak yang  meloncati bulatan itu harus membaca sambil menyusun kalimat. Permainan ini cocok untuk membaca permulaan.

8.      Perjalanan dengan Denah
Permaianan ini cocok untuk kelas tinggi (IV, V, VI). Guru mempersiapkan denah sebuah wilayah, baik itu lingkungan sekolah ataupun tempat lain, kerumitan disesuaikan dengan tingkatan kelas. Amati denah, tuliskan arah mata angin, nama-nama tempat dan nama jalan sejelas mungkin. Lalu ditempel di papan tulis atau papan planel. Siswa diperintahkan untuk menuliskan arus perjalanan dari tempat yang ditentukan guru dalam tulisan deskripsi. Permainan dapat pula dirancang sedemikian rupa sehingga lebih meningkatkan daya analisa siswa, yaitu dengan merancang sebuah perjalanan yang tujuannya disembunyikan. Siswa berkelompok. Guru membuat kesepakatan tentang awal perjalanan siswa dalam denah tersebut. Satu anak menjadi pemain kunci dan diperintahkan memikirkan sebuah tempat dalam denah, anak tersebut nantinya akan ditanya oleh setiap kelompok tentang nama-nama jalan yang dilewati. Misalnya apakah kami melewati jalan Sudirman? Apakah belok kiri ke jalan Teuku Umar? dan seterusnya. Pemain kunci hanya boleh menjawab ya, tidak atau bisa. Kelompok penanya harus menebak tempat yang akan dituju pemain kunci tadi. Kelompok yang benar menebak tujuan, itulah kelompok yang menang. Permainan ini melatih keterampilan menulis, membaca denah dan menyimak.

9.      Mengarang Gotongroyong
Permainan ini dilakukan secara berkelompok. Tempatkan beberapa benda di dalam kotak tertutup misal bola, buku, jangka dan sebagainya. Salah seorang siswa perwakilan dari setiap kelompok ke depan untuk mengambil salah satu benda yang ada di dalam kotak dan diperlihatkan ke kelompoknya. Kemudian ia menuliskan kalimat pertama yang akan disusun menjadi sebuah karangan. bantulah jika siswa memerlukan bantuan guru. Misalnya benda itu bola, anjurkan dia menuliskan “pada suatu hari aku menemukan bola” lalu guru bertanya kepada siswa dalam kelompok yang sama “di mana bola itu ditemukan?” dan seterusnya hingga kelompok tersebut dapat melanjutkan karangan tanpa bantuan guru. Kelompok yang dapat menyusun kalimat paling runtut adalah pemenangnya. Permainan ini melatih keterampilan menulis, menyusun karangan dan membuat kalimat.

10.   Stabilo Kalimat
Guru menyiapkan wacana berupa kliping dari berbagai sumber, yang di dalamnya terdapat kalimat yang salah dan kalimat tidak efektif. Guru menjelaskan cara permainannya, yaitu setiap siswa wajib mencari  kalimat yang salah dan benar/efektif dengan memberi tanda stabilo. Setiap kelompok harus memberi tanda sebanyak-banyaknya. Wacana dibagikan, siswa diperintahkan membaca dengan waktu yang telah ditentukan. Kemudian guru memberi aba-aba mulai dan siswa langsung mencari kalimat tersebut sebanyak-banyaknya. Pencarian juga bisa dikhususkan pada kalimat yang salah saja atau yang benar saja. Permainan ini melatih membaca cepat dan cermat serta memahami kalimat efektif. Cocok untuk kelas V dan VI

11.  Kata dari Wacana
Permainan ini dimainkan secara berkelompok. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok mendapatkan fotokopi wacana yang harus dibaca. Setiap kelompok membaca wacana dan mencari satu kata yang harus dikatakan pada kelompok lain yang ditunjuk. Kelompok lain tersebut harus mencari kata-kata yang berhubungan dengan kata yang diberikan tadi. Misalnya kata “Hujan”, kelompok yang ditunjuk harus mencari kata-kata yang berhubungan dengan “hujan” misalnya banjir, basah, dingin dan sebagainya. Kelompok yang paling banyak mengemukakan kata yang berhubungan tersebut, itulah pemenangnya. Permainan ini melatih kemampuan membaca dan kosa kata.
 
12.  Cerita Berantai
Permainan ini dilakukan secara berkelompok terdiri dari dua orang. Setiap kelompok wajib melanjutkan cerita yang diucapkan kelompok lain. Cerita dimulai dari guru tanpa menunjukan sebuah objek apapun. Kemudian dilanjutkan dengan kelompok pertama. Salah satu siswa melanjutkan cerita, siswa lain dalam kelompok itu menuliskan cerita yang diucapkan temannya. Cerita terus dilanjutkan sampai kelompok terakhir. Permainan ini melatih keterampilan menyimak dan menyusun cerita yang runtut. Cocok untuk kelas tinggi.

13.  Siap Laksanakan Perintah
Permainan ini dilakukan sambil bernyanyi. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Nyanyian dimulai dari guru kemudian dilanjutkan oleh kelompok pertama dan seterusnya. Kelompok yang mendapat giliran bernyanyi diperbolehkan mengganti lirik “Sesuka Hati”, dengan disisipi perintah yang harus dilakukan kelompok lain. contoh Guru : “Kalau kau suka hati tepuk tangan (siswa tepuk tangan), kalau kau suka hati tepuk tangan (siswa tepuk tangan), kalau kau suka hati, mari kita lakukan, kalau kau suka hati tepuk tangan (siswa tepuk tangan)”. Nyanyian dilanjutkan oleh kelompok pertama : kalau kau suka hati tarik tangan (kelompok lain menarik tangan temannya), kalau kau suka hati injak lantai (kelompok lain menginjak lantai), kalau kau suka hati, mari kita lakukan, kalau kau suka hati loncat katak (kelompok lain meloncat seperti katak) Permainan ini melatih kemampuan menyimak.

14.  Menyusun Kata atau Kalimat Bersama-sama
Permainan ini baik dilakukan di kelas rendah, siapkan karton bertuliskan huruf yang telah ditempeli lem atau selotip. Siswa dibagi huruf tersebut, kemudian guru memerintahkan siswa untuk membuat sebuah kata yang diucapkan guru dengan menggabungkan huruf tersebut di papan tulis. Setiap siswa yang memegang salah satu huruf pada kata tersebut wajib menyusunnya di depan. Permainan juga bisa lebih dikembangkan. Siapkan karton selebar kotak pinsil yang telah ditulisi sebuah kata. Siswa dibagi menjadi dua kelompok. Setiap kelompok mendapatkan sejumlah karton dengan tulisan yang sama dan Setiap siswa hanya mendapatkan satu buah karton bertuliskan kata. Dengan aba-aba tertentu guru memerintahkan siswa ke depan menyusun kalimat yang guru ucapkan. Siswa hanya boleh menempelkan satu karton yang dipegangnya. Kelompok yang paling cepat dan benar dalam menyusun adalah pemenangnya. Permainan ini melatih keterampilan membaca dan menyusun kalimat.

Mudah-mudahan, perantara artikel ini dapat menginspirasi kita untuk selalu meningkatkan proses pembelajaran, yang tentunya berimbas pada peningkatan tujuan pembelajaran.

Daftar Pustaka
Djuanda Dadan. (2006). Belajar Bahasa Indonesia Sambil Bermain. Jurnal Mimbar Pendidikan. Volume XXV (No. 4). Halaman 14. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
R. Semiawan C. (1999). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta : Depdikbud.

By : Muhamad Rapi

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah dapat tambahan pengetahuan,insya allah akan dicoba di lapangan.mudah-mudahan sukses.

Anak Unnes mengatakan...

Wah mas Muhamad Rapi terimakasih sekali. Mampir juga ya ke http://anakunnes-id.blogspot.com/

Ijin kopi mas...

Poskan Komentar